Dalam rangkaian EXPO Hari Santri 2025 di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, santri putra Pondok Pesantren Modern Hasan Munahir Trenggalek tampil memukau dengan mempersembahkan kesenian daerah khas Trenggalek — Jaranan Turonggo Yakso. Penampilan ini menjadi wujud nyata semangat santri dalam melestarikan budaya lokal di tengah arus modernisasi.

Tari Turonggo Yakso sendiri memiliki filosofi mendalam: menggambarkan perjuangan manusia dalam menundukkan hawa nafsu dan sifat angkara murka yang disimbolkan oleh sosok Yakso (raksasa). Melalui gerak tari yang gagah dan ritmis, para penari menampilkan nilai keberanian, pengendalian diri, dan semangat kebersamaan — nilai yang sejalan dengan karakter santri.
Para santri Hasan Munahir tak hanya menari, tetapi juga menjelaskan makna di balik setiap gerak dan irama gamelan yang mengiringinya. Mereka berusaha memperkenalkan bahwa seni tradisi bukan sekadar hiburan, melainkan warisan luhur yang sarat pesan moral dan spiritual.

Dengan tampilnya Turonggo Yakso di ajang kampus besar seperti UIN SATU Tulungagung, santri Hasan Munahir menunjukkan komitmennya untuk menjadi penjaga budaya daerah, membuktikan bahwa santri tidak hanya piawai dalam ilmu agama, tetapi juga turut menjaga identitas budaya bangsa.

