Dari Gontor, Santri Hasan Munahir Belajar Membaca Zaman hingga Membentuk Generasi Emas

PONOROGO, 14 Oktober 2026 — Membaca bukan sekadar mengeja kata, menulis bukan sekadar merangkai kalimat, dan cerita bukan sekadar hiburan. Di tangan orang-orang yang mencintai literasi, ketiganya dapat menjadi jalan untuk memahami perubahan, menyalakan inspirasi, dan membentuk masa depan generasi.

Semangat itulah yang dibawa santri Pondok Pesantren Modern Hasan Munahir, Trenggalek, dalam rangkaian Pekan Literasi Santri di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, pada 11–14 Oktober 2026. Selama empat hari, para santri mengikuti seminar literasi bersama empat tokoh penulis dengan tema yang berbeda, tetapi saling terhubung: membaca zaman, menebarkan inspirasi, melahirkan gagasan, dan membentuk generasi emas.

Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara santri dan para penulis yang selama ini dikenal melalui karya-karyanya. Bukan sekadar mendengar teori, para peserta diajak memahami bagaimana kebiasaan membaca dapat membentuk cara berpikir, bagaimana pengalaman hidup dapat menjadi tulisan, dan bagaimana sebuah cerita mampu menggerakkan manusia lintas generasi.

Di tengah derasnya arus informasi digital, literasi menjadi bekal penting agar generasi muda tidak sekadar menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu berpikir kritis, memahami perubahan zaman, dan melahirkan gagasan yang bermanfaat.

Hari Pertama: Membaca Zaman, Menjawab Perubahan

Hari pertama menghadirkan Ustaz H. Ahmad Suharto, Wakil Direktur Pondok Modern Darussalam Gontor, dengan tema “Membaca Zaman, Menjawab Perubahan.”

Penulis yang aktif menghasilkan karya-karya kepesantrenan ini mengajak peserta melihat literasi sebagai bekal untuk memahami realitas dan merespons tantangan zaman. Membaca tidak cukup berhenti pada bertambahnya pengetahuan. Apa yang dibaca seharusnya memengaruhi cara berpikir, memperbaiki sikap, dan melahirkan perubahan dalam kehidupan.

Di antara karya beliau adalah Ayat-Ayat Perjuangan dan seri Garden of Wisdom jilid 1, 2, dan 3, yang menjadi bacaan bagi kalangan santri dan guru pesantren.

Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Ahmad Suharto menyampaikan rasa syukurnya atas terselenggaranya kegiatan ini.

“Kami sangat bersyukur acara ini bisa terselenggara. Ini adalah upaya kita dalam membangun cinta literasi pemuda Indonesia,” ungkapnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa membangun budaya literasi bukan pekerjaan satu hari. Dibutuhkan lingkungan pendidikan yang mendorong generasi muda untuk terus membaca, berpikir, dan menjadikan ilmu sebagai bekal menghadapi perubahan.

Hari Kedua: Dari Santri Menjadi Inspirasi

Hari kedua menghadirkan Ahmad Fuadi, penulis novel Negeri 5 Menara, melalui tema “Dari Santri Menjadi Inspirasi.”

Kisah yang dihadirkan Ahmad Fuadi menunjukkan bahwa kehidupan pesantren menyimpan banyak cerita tentang perjuangan, persahabatan, cita-cita, dan ketekunan. Pengalaman yang tumbuh di lingkungan pendidikan dapat menjelma menjadi karya yang menginspirasi pembaca jauh melampaui tempat asalnya.

Novel Negeri 5 Menara dikenal luas melalui pesan tentang keberanian bermimpi dan kesungguhan dalam berusaha. Karya tersebut juga menjangkau pembaca lintas negara dan diterjemahkan ke dalam sejumlah bahasa.

Bagi para santri Hasan Munahir, sesi ini menjadi kesempatan untuk melihat bahwa latar belakang sebagai santri bukanlah batas untuk berkarya. Justru dari kehidupan pesantren, seseorang dapat menemukan nilai dan pengalaman yang layak dibagikan kepada dunia.

Santri tidak harus menunggu menjadi tokoh besar untuk menginspirasi. Ketekunan belajar, kesungguhan menjalani proses, dan keberanian menuangkan pengalaman dapat menjadi awal lahirnya sebuah karya yang berarti.

Hari Ketiga: Dari Membaca Menjadi Gagasan

Pada hari ketiga, para peserta bertemu dengan Tere Liye, penulis yang dikenal melalui berbagai novel populernya. Ia mengisi sesi bertema “Dari Membaca Menjadi Gagasan.”

Melalui tema ini, membaca ditempatkan sebagai proses yang lebih dalam daripada sekadar mengumpulkan informasi. Bacaan dapat memperkaya imajinasi, memperluas sudut pandang, dan menjadi bahan baku untuk melahirkan gagasan baru.

Salah satu momen menarik terjadi ketika Faiz Imanie, santri Hasan Munahir, berkesempatan bertanya langsung kepada Tere Liye.

“Buku apa yang pertama kali Antum baca sehingga bisa menulis novel sedahsyat ini?” tanyanya.

Tere Liye menjawab bahwa ia kesulitan menunjuk satu judul tertentu. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia mengaku telah membaca setidaknya 2.000 buku.

Jawaban itu sederhana, tetapi menyimpan pelajaran besar. Kemampuan menulis tidak selalu lahir dari satu buku istimewa. Ia tumbuh melalui perjalanan panjang bersama bacaan, rasa ingin tahu, dan kemauan untuk terus belajar.

Bagi santri yang terkadang merasa satu buku dalam sepekan sudah cukup, jawaban tersebut menjadi cermin sekaligus penyemangat. Bukan semata-mata soal buku apa yang dibaca, melainkan seberapa besar kemauan untuk terus membaca, merenungkan, dan mengolahnya menjadi gagasan.

Sebab, membaca memberi seseorang bahan untuk berpikir, sedangkan gagasan lahir ketika pengetahuan bertemu dengan kepekaan dan keberanian untuk mempertanyakan sesuatu.

Hari Keempat: Dari Cerita Membentuk Generasi Emas

Hari keempat menjadi penutup rangkaian kegiatan dengan kehadiran Habiburrahman El Shirazy, yang akrab disapa Kang Abik, penulis novel fenomenal Ayat-Ayat Cinta. Ia membawakan tema “Dari Cerita Membentuk Generasi Emas.”

Melalui karya-karyanya, Kang Abik dikenal menghadirkan cerita yang memadukan nilai keislaman, pendidikan, cinta, dan persoalan kemanusiaan. Cerita tidak hanya membawa pembaca masuk ke dalam dunia tokoh-tokohnya, tetapi juga mengajak mereka merenungkan nilai dan pilihan hidup.

Dalam sesi tersebut, Satria Mahardika, santri Hasan Munahir, mengajukan pertanyaan mengenai alasan Kang Abik memilih menulis novel.

Dengan lugas, Kang Abik menjelaskan keinginannya menghadirkan cerita bermutu yang berlandaskan nilai-nilai Islam, di tengah banyaknya bacaan yang menurutnya kurang memberikan manfaat.

Ia juga mengungkapkan sedang menggarap Ayat-Ayat Cinta 3 dengan latar cerita di Gaza, Palestina. Baginya, menulis tentang Palestina merupakan salah satu ikhtiar untuk menyuarakan kepedulian melalui karya. Ia berharap tulisan-tulisannya menjadi bagian dari tanggung jawab moral yang dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.

Dari penjelasan tersebut, santri belajar bahwa cerita dapat menjadi sarana dakwah. Sebuah novel mampu menyampaikan nilai tanpa harus selalu hadir dalam bentuk nasihat langsung. Melalui tokoh, konflik, dan perjalanan hidup, pembaca dapat diajak memahami kebaikan, merasakan penderitaan orang lain, dan menumbuhkan kepedulian.

Di sinilah cerita menemukan maknanya: bukan hanya menghibur pembaca hari ini, tetapi juga ikut membentuk cara berpikir dan karakter generasi esok.

Keikutsertaan santri Hasan Munahir dalam Pekan Literasi Santri sejalan dengan penguatan budaya literasi yang telah dimasukkan secara intensif ke dalam kurikulum pembelajaran pondok sejak 2024.

Bagi Pondok Pesantren Modern Hasan Munahir, literasi bukan sekadar kegiatan tambahan atau agenda sesaat. Ia menjadi bagian dari proses pendidikan untuk membentuk santri yang berpengetahuan luas, terampil mengolah gagasan, berani menyampaikan pendapat, dan mampu menghubungkan ilmu dengan kehidupan.

Pengalaman mengikuti seminar di Gontor memperkaya proses tersebut. Para santri tidak hanya mengenal penulis melalui halaman buku, tetapi juga berkesempatan mendengar langsung pemikiran, pengalaman, dan motivasi di balik karya-karya mereka.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Para santri menyimak pemaparan narasumber dengan saksama dan memanfaatkan kesempatan berdialog untuk menggali pengalaman para penulis. Pertanyaan yang diajukan Faiz Imanie dan Satria Mahardika menjadi bukti bahwa ruang literasi bukan hanya tempat mendengar, melainkan juga tempat menumbuhkan keberanian berpikir dan bertanya.

Empat hari di Gontor menghadirkan empat pelajaran yang saling melengkapi: membaca membantu memahami perubahan zaman, pengalaman santri dapat menjadi sumber inspirasi, bacaan dapat melahirkan gagasan, dan cerita dapat membentuk karakter generasi.

Pada akhirnya, literasi bukan semata-mata tentang berapa banyak buku yang selesai dibaca atau berapa panjang tulisan yang berhasil dihasilkan. Lebih dari itu, literasi adalah tentang bagaimana pengetahuan mengubah cara pandang, bagaimana gagasan memberi manfaat, dan bagaimana karya meninggalkan jejak kebaikan.

Dari Gontor, santri Hasan Munahir membawa pulang pesan bahwa generasi emas tidak lahir begitu saja. Ia dibentuk melalui kebiasaan membaca, keberanian berpikir, ketekunan berkarya, dan kesungguhan menanamkan nilai-nilai kebaikan.

Sebab, membaca membuat kita memahami zaman, gagasan membuat kita mampu menjawab tantangan, dan cerita memberi kita jalan untuk menginspirasi masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *