Sebagai bagian dari puncak pendidikan di Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI), Pondok Pesantren Modern Hasan Munahir Trenggalek menggelar kegiatan Tarbiyah Amaliyah atau Micro Teaching Perdana yang dilaksanakan oleh siswi akhir KMI. Pada kesempatan ini, siswi atas nama Devi Oktaviani tampil menyampaikan materi pembelajaran sebagai bentuk nyata pengabdian ilmu yang telah ditempa selama enam tahun di dalam pondok.
Kegiatan praktik mengajar ini disaksikan langsung oleh Pimpinan Pondok, Kepala SMA Hasan Munahir, jajaran asatidz dan asatidzah, serta siswa-siswi KMI kelas 5. Dengan penuh kesiapan dan keberanian, siswi akhir KMI diuji bukan hanya kemampuan berbicaranya, namun juga cara berpikir, adab, kepemimpinan, hingga kesiapan menjadi pendidik umat di tengah masyarakat.
Allah Ta’ala berfirman: “Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya ketika mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)
Ayat ini menegaskan bahwa tugas seorang penuntut ilmu bukan berhenti pada belajar, namun juga menjadi mundzirul qoum pemberi peringatan dan pembimbing bagi masyarakatnya.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah sebagai seorang pendidik.” (HR. Ibnu Majah)*
Dari sinilah ruh pendidikan Pondok Hasan Munahir dibangun. Bahwa guru bukan sekadar profesi, melainkan jalan perjuangan dan kemuliaan. Bukan berarti profesi lain tidak penting; dokter, petani, pedagang, aparat, maupun pemimpin semuanya memiliki peran besar dalam kehidupan. Namun Pondok Hasan Munahir menanamkan satu prinsip penting:
apa pun profesinya kelak, santri harus tetap memiliki jiwa seorang guru.
Menjadi polisi yang guru bisa mendidik masyarakat dengan keteladanan.
Menjadi kepala desa yang guru, mampu membimbing rakyat dengan hikmah.
Menjadi pedagang yang guru, mencerminkan mengajarkan kejujuran dalam muamalah.
Menjadi pegawai pegawai yang guru, siap menyampaikan nilai-nilai kebenaran.
Karena sejatinya guru adalah sosok yang digugu lan ditiru dipercaya perkataannya dan dicontoh perbuatannya. Maka santri Hasan Munahir dididik bukan hanya agar sukses untuk dirinya sendiri, tetapi agar mampu membawa cahaya ilmu, menyebarkan manfaat, serta menjadi penyambung risalah dakwah di mana pun berada.
Semoga melalui kegiatan Tarbiyah Amaliyah ini lahir generasi pendidik umat yang berilmu, beradab, dan siap mengabdi untuk agama, bangsa, dan masyarakat.

